Padang,Sumatera Barat

MENIKMATI KOTA SANG MALIN KUNDANG

 
Legenda si anak durhaka, Malin Kundang, memang tak pernah lekang di makan zaman. Batu yang diyakini sebagai sosok Malin Kundang yang dikutuk ibunya masih 'pasrah' membungkuk di tepi pantai Air Manis di Selata kota padang, Sumatera Barat. Setiap pekan, saat senja, pantai ini tak pernah sepi dikunjungi wisatawan.
 
Pantai air manis yang menjadi 'rumah' si Malin Kundang ini hanyalah satu diantara beberapa pantai yang mempesona di Padang. Pantai lain yang tak kalah menariknya adalah Pantai Padang. Lokasinya tepat di pusat kota, di sore hari pantainya yang coklat jadi arena bermain anak-anak dari kampung sekitar. Jika lebih menyukai bermain langsung di tepi laut dengan berbaqi biota laut seperti terumbu karang dan ikan karangnya, Anda bisa mengunjungi Pantai Taman Nirwana. Jika beruntung, Anda bisa membawa cangkang kerang berukuran besar di sana.
 
Berwisata ke kota Padang, rasanya kurang afdol tanpa menyebut nama Bukit Tinggi. Kota yang terkenal dengan jam gadang yang dibangun pada 1926 ini menyimpan banyak tempat menarik untuk dikunjungi. Misalnya benteng Ford de Kock, Lobang Jepang, serta Ngarai Sianok yang memiliki kedalaman hingga 100 meter. Mencapai Bukittinggi tak sulit, karena jalannya yang menghubungkan dari Padang cukup nyaman dilalui mobil sekalipun melewati hutan lebat, perbukitan dan gunung-gunung. bahkan perjalanan sekitar tiga jam dengan mobil inilah yang penuh dengan pesona.
 
Memasuki kawasan hutan, cuaca terik di pusat kota dijamin langsung hilang berganti sejuk. Jalanan berkelok tajam nyaris membentuk "L" dan tanjakan curam bakalan sering dilalui. Menariknya, kanan kiri sisi jalan merupakan jurang dengan ketinggian hingga lebih dari 50 m. Yang tampak hanyalah pohon-pohon raksasa berusia ratusan tahun tinggi menjelang diselimuti kabut putih. Sekedar tips aja, bukalah kaca jendela mobil anda lebar-lebar, matikan mesin pendingin, dan nikmati segarnya udara khas pegunungan yang masih alami.
 
Saat melintasi jalan yang di kiri-kananya hutan lebat, tepatnya di kawasan Lembah Anai, segerombolan kera gunung liar berjajar rapi di pinggir jalan seolah siap menyapa "welcome to the jungle" kepada siapa saja yang lewat. Di tempat ini Anda juga akan menemukan pemandangan air terjun dengan ketinggian sekitar 20 meter, lengkap dengan area peristirahatan. Mampirlah sejenak, sesaplah teh hangat dengan telur ayam kampungnya. Jangan lupa mencicipi lemang tapai atau roti canenya. Ditanggung tubuh anda akan langsung segar.
 
Jika musimnya pas, biasanya akhir tahun dibukit tinggi ini anda bisa menyaksikan perburuan babi hutan. Yang menarik menjelang perburuan, Anda bisa menyaksikan jalanan yang dipenuhi anjing-anjing dengan bentuk ekor yang khas, lurus ke atas. Pemandangan tak terlupakan. Belum lagi ramainya gonggongan mereka.
Tapi ada satu lagi yang tak boleh dilupakan, oleh-olehnya. Ada banyak buah tangan khas dari kawasan Sumatera Barat ini. Misalnya, kain songket yang dapat dibeli lansung ke lokasi pembuatannya di Kampung pandai Sikek, di Kabupaten Tanah Datar, Kecamatan Sepuluh Koto, Koto Baru atau Padang Panjang.
 
Kalau suka cemilan, ada keripik balado. Rasanya pedas luar biasa. Warnanya merah karena dibalut bumbu yang didominasi cabai merah. Kalau tak suka pedas ada Kripik Sanjai. Dipadang juga ada makanan yang cukup langka ditemui di daerah lain, yaitu ikan bilih dari danau  Singakarak. Ikan yang konon hanya hidup hanya bisa hidup di danau Singkarak, Solok ini bentuknya mirip teri, hanya saja memiliki rasa yang gurih. Tak heran bila sepiring kecil ikan bilih di restoran padang harganya terbilang cukup mahal. Sedangkan di danau Singkarak, sekilo ikan bilih bisa anda dapatkan dengan selembar uang Rp 50 ribu saja.
 
Hmmmmmm....perut kenyang oleh ikan bilih dan lemang tapai, sekantung kripik balado sudah ada ditangan, koperpun sesak oleh kain songket. Sementara kamera penuh dengan hasil jepretan disepanjang perjalanan yang masih memiliki segudang rumah adat ini. Batu penjelmaan sang anak durhaka pun tak luput dari lensa kamera. Padang, kota asal Malin kundang ini memang penuh kenangan. (sumber : Tempo)