discover.gif

Sub Agent Login






Lost Password?
emirates.gif
Taif sepotong Oase PDF Print E-mail

Menyelinaplah ke Taif, kota kecil di timur Makkah, Arab Saudi. Susuri liuk jalannya yang berkelok mendaki. Hirup dalam-dalam hawa segarnya, yang suhunya tak pernah beranjak di atas 27 derajat Celcius. Dan, jangan pernah terpejam, karena sekedip matapun terasa sayang melewatkan pemandangan yang sungguh elok itu; gemericik aliran sungai, aneka jenis burung dan serangga lalu lalang di antara perdu dan padang kaktus, serta tumbuhan hijau yang nama Latinnya bahkan mungkin belum teridentifikasi seluruhnya.


Keindahan Taif tercium sejak ckeckpoint pertama menjelang naik ke perbukitan cadas Al-Hada. Melihat jalan berliku sepanjang tebing dengan pendar lampu di sisi jalan, serasa melihat lukisan raksasa. Menjelang puncaknya, puluhan babon liar bertengger di bebukitan kecil di kanan kiri jalan seolah mengucap selamat datang.

Turun melalui jalan yang tak securam tanjakan pertama, hawa dingin mulai menerpa. Semilir angin yang menerobos lewat sela-sela ranting cemara, menyapu peluh tanpa sisa.

Di mata banyak orang, Taif adalah anomali. Di tengah gurun dan gunung cadas, Taif menjadi oase hijau yang menyejukkan. Betapa tidak. Timur Taif adalah lautan pasir yang masuk dalam wilayah Rub’al Khali, provinsi terkenal dimana Lawrence of Arabia dan pengelana Wilfred Thesinger pernah singgah, dan belakangan diklaim oleh banyak perusahaan minyak. Sebelah barat Taif adalah kota Makkah, lembah gersang tempat Baitullah berada.

Sementara di Taif, buah-buahan seolah tak mengenal musim. Kesuburan tanahnya membuat wilayah ini cocok bagi semua jenis buah-buahan, mulai dari jeruk, zaitun, apricot, anggur hingga almond dan delima. Selama berabad-abad hingga saat ini, Taif memasuk sebagian besar kebutuhan buah dan sayur-mayur bagi Makkah.

Barangkali benar apa yang diceritakan Mohsen Al-Dajani, fotografer terkenal Arab Saudi dan penulis buku Taif, Eden of Saudi Arabia dalam surat elektroniknya pekan lalu tentang legenda Taif: tempat ini merupakan sepotongan wilayah di Suriah yang dipindahkan Allah SWT ke lembah di sisi bukit Al-Hada sebagai jawaban atas doa Nabi Ibrahim AS. Saat meninggalkan Hajar dan Ismail putranya di lembah gersang Makkah, ia meminta agar kota itu dilimpahi air dan buah-buahan.

Dan hingga kini, sayur, buah, dan madu mengalir tanpa jeda dari Taif ke Makkah.

Tradisi yang terjaga

Sentra buah-buahan dan sayur-mayur Taif ada di Al-Shafa, wilayah paling hijau di tepi barisan pegunungan Hijaz itu. Namun hampir di seluruh Taif mudah dijumpai kebun-kebun sayur dan buah.

Di Al-Shafa, tradisi agraris masyarakatnya masih terjaga. Kaum tua berbaur dengan kaum muda bersama-sama mengolah lahan mereka. Mereka mewariskan tradisi bertani dari generasi ke generasi. Hasil bumi Taif dikirim tiap hari ke Makkah dan kota-kota lain di sekitarnya.

“Tak ada biji yang tak tumbuh di Shafa,” ujar Manshour, petani setempat yang menjual sendiri delima hasil kebunnya di pinggiran Taif. Delima Taif paling terkenal di Arab Saudi. Buahnya besar, dengan isi buahnya yang merah ranum.

Beberapa tahun terakhir, produksi delima di Taif meningkat. Kata Manshour, hal ini terjadi berkat campur tangan Kerajaan yang membangun sentra budi daya tetumbuhan lokal untuk menghindarkannya dari kepunahan. “Selama pemuda Taif mau berkebun dan berladang, maka tradisi itu akan tetap terjaga,” ujarnya.

Selain terkenal sebagai sentra buah dan sayur, Taif juga populer dengan bunga mawarnya. Sejak berabad silam, kota ini berjuluk The city of roses. Bunga mawar bermekaran sepanjang musim. Penyulingan-penyulingan mawar tradisional berdiri di setiap sudut desa.

Puncak panen raya mawar adalah pada bulan April. Lebih dari 2.000 ladang mawar yang tersebar di Shafa dan Hada berubah menjadi seperti permadani raksasan berwarna merah muda. Selama lebih dari tiga abad, Taif menjadi produsen esens mawar (Rosa x Damascena trigintipetala), atau masyarakat setempat menyebutnya sebagai ’itr atau attar kualitas tinggi di dunia.

Pengolahan bunga mawar telah ada sejak era Usmaniyah. Tradisi penyulingan mawar diduga dibawa pengelana Balkan pada masa kejayaan Dinasti Usmaniyah. Hal ini merujuk pada penamaan kazanlik untuk menyebut alat pengolah bunga mawar, yang berasal dari bahasa Turki yang berarti cerek pengolah mawar. Namun para petani mawar meyakini, tradisi bertanam mawar itu datang dari India.

Dulu, para petani memasarkan hasil sulingan mawar dengan mengendarai onta melintasi padang pasir ke berbagai kota di sekitarnya. Kini, para pembeli besarlah yang mendatangi mereka hingga ke sentra-sentra penyulingan skala home industry di desa-desa mawar di Taif.

Air sulingan mawar asal Taif sohor sebagai yang terbaik di dunia, mengalahkan produk penyulingan-penyulingan besar dan modern dari Turki, Bulgaria, Rusia, Cina, India, Maroko, dan Iran.

Tempat tetirah para bangsawan

Kendati tak pernah bersalju, namun selama musim dingin suhu di Taif lumayan ekstrem. Pada pertengahan bulan ini yang merupakan puncak musim dingin suhu bisa mencapai 7 derajat Celcius pada siang hari dan lebih rendah lagi di malam hari, hingga mencapai 2-3 derajat Celcius.

Meski mengalami musim panas yang cukup panjang selama empat bulan, matahari tak pernah membakar kulit seperti halnya di belahan lain di jazirah Arab. Suhu tertinggi wilayah ini hanya 27 derajat Celcius, dan turun hingga 13 derajat Celcius di malam hari.

Itu sebabnya, Taif menjadi tempat peristirahatan para raja dan kaum berada Arab Saudi selama berabad-abad. Banyak bangunan tua yang tetap terjaga yang menjadi bukti sejarah. Bangunan-bangunan itu menjadi saksi peradaban yang terus berkembang, karena masing-masing mencirikan eranya.

Misalnya saja Qasr al-Sulaiman atau Istana Ibnu Sulaiman yang tetap terpelihara hingga saat ini. Bangunan milik Menteri Keuangan pertama Arab Saudi yang didirikan tahun 1363 ini merupakan paduan gaya Arab, Turki, dan Eropa. Kolam kecil dengan air mancur, ciri arsitektur era Usmaniyah, berada di bagian depan istana. Saat itu, Dinasti Usmaniyah memang tengah berjaya di Turki dan banyak arsitek andalnya yang ”diekspor” ke berbagai penjuru dunia.

Bangunan lainnya adalah Istana Al-Ka’ki. Istana milik keluarga Ka’ki yang merupakan pengusaha sukses Makkah abad pertengahan ini pernah difungsikan sebagai sekolah dasar. Namun oleh ahli waris dan pemerintah setempat, bangunan itu kini dijadikan salah satu objek cagar budaya.

Istana ini didirikan oleh arsitek kondang di zamannya, Mohammad al-Quraishi selama dua tahun sejak 1936. Bangunan ini seluruhnya menggunakan material lokal. Bebatuan dari perbukitan Taif menjadi inti bangunannya dan konstruksi atap menggunakan kayu akasia yang masih banyak dijumpai di Taif hingga saat ini. Ornamen dalamnya menggunakan gymsum yang dicetak dengan cara tradisional.

Sang arsitek seolah ingin mendobrak tradisi arsitektur Eropa yang saat itu mulai menjajah Arab dan latah diikuti oleh banyak orang. Itu sebabnya, Al-Quraishi meniadakan pilar-pilah besar yang mencirikan arsitektur kebanyakan di abad pertengahan. Prinsipnya sangat terkenal saat itu, yaitu ”Dengan nama Dia yang membangun surga tanpa pilar”.

Selain dua istana itu, puluhan bangunan tua masih terawat dan berdiri sejajar dengan resort dan rumah peristirahatan modern lain yang banyak berdiri di kota ini. Bagi saya, Taif menjadi oase, tak semata karena alamnya yang indah. Tradisi lokalnya dan bangunan-bangunan bersejarah yang tetap terjaga hingga saat ini di Taif – hal yang tidak dijumpai di Makkah, kota peradaban tua yang semestinya bercerita banyak hal tentang waktu yang telah lewat – adalah oase tersendiri di mata saya. (republika)

 
< Prev   Next >
© 2017 Traguna Tour & Travel
- All Rights Reserved -
Traguna Tour. Telp: ( 62 ) ( 21 ) 7947477. Fax: ( 62 ) ( 21 ) 7947177. Email: tragunatour@cbn.net.id